Makna Sunnah Nabi


islam-dan-sunnahbismillah,
diri ini terasa terketuk, ketika seorang yang benar2 aku hormati dan sayangi di dunia ini melihat sunnah masih jauh dari makna yang sebenarnya, sangat simple, sunnah ialah sesuatu yang bila ia dikerjakan maka akan mendapatkan pahala, namun jika ia ditinggalkan maka tidak berdosa… benar memang, namun, sunnah itu lebih dari itu… semoga artikel di bawah ini yang ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc bisa menjelaskan dan menerangkan dengan baik apa itu sunnah… barakallahufiyk.

Sunnah secara bahasa adalah jalan atau cara, sehingga sunnah nabi secara bahasa yaitu jalan atau cara nabi di dalam perkara agama.

Ibnu Rajab dalam kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan As Sunnah pada asalnya adalah jalan yang ditempuh, dan itu meliputi sikap berpegang teguh dengan apa yang dijalani oleh Nabi dan para khalifahnya baik keyakinan, amalan, maupun ucapan. Dan inilah makna As Sunnah secara sempurna.

Itulah yang kami maksud dengan As Sunnah dalam pembahasan ini, sehingga kami tidak terpaku pada istilah Sunnah menurut ahli fikih atau sunnah menurut ahli ushul fikih atau Sunnah dalam arti akidah, tetapi mencakup itu semua.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ …

“Wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para Al Khulafaa’ Ar Rasyidiin …” (Shahih, HR Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi dari hadits Al Irbadh bin Sariyah, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’, no: 2549)

PERINTAH MEMULIAKAN SUNNAH
Sunnah Nabi, sebuah istilah yang kerap kita mendengar dan mengucapkannya. Karena memang ia merupakan landasan hidup kita sebagai penganut ajaran Islam. Kita semua sepakat untuk menjunjung tinggi dan mengagungkan Sunnah dan bersepakat pula bahwa yang merendahkannya berarti menghinakan Islam dan ajaran Nabi.

Namun jika kita menengok realita yang ada, apa yang dilakukan kaum muslimin dalam menyikapi Sunnah Nabi nampaknya sudah jauh dari yang semestinya. Bahkan keadaannya sangat parah. Tidak tanggung-tanggung, di antara mereka ada yang menolak dengan terang-terangan Sunnah yang tidak mutawatir dan mengatakan hadits ahad bukan hujjah (dalil) dalam masalah akidah.

Ada pula yang menolak dan mengingkari Sunnah Nabi secara total dengan berkedok mengikuti Al Qur’an saja. Padahal Al Qur’an tidak mungkin dipisahkan dari Sunnah. Al Qur’an memerintahkan untuk mengambil apa saja yang datang dari Nabi (Sunnahnya).

Al Imam Abu Qilabah berkata: “Jika kamu ajak bicara seseorang dengan menyebutkan Sunnah kepadanya lalu dia mengatakan: ‘Tinggalkan kami dari ini (penyebutan sunnah) dan sebutkan (pada kami) Kitabullah (Al Qur’an saja).’ Maka ketahuilah bahwa dia adalah orang yang sesat.”(Lihat kitabTabaqat Ibni Sa’ad, 7/184, Ta’dhimus Sunnah, 25)

Bentuk yang lebih parah dari ‘sekedar’ menolak adalah mengolok-olok Sunnah dan orang-orang yang mencoba berjalan di atasnya. Ada pula yang dengan terang-terangan menolak hadits Nabi karena dinilai tidak sesuai dengan akal atau realita zaman (menurut apa yang dia sangka).

Sangat disayangkan sikap-sikap seperti ini justru sering dimiliki oleh orang-orang yang terjun ke kancah dakwah. Padahal lisan mereka juga mengatakan bahwa kita wajib mengagungkan Sunnah.

Mengagungkan Sunnah adalah perkara yang besar dan bukan sekedar isapan jempol. Ia butuh bukti nyata dan praktek dalam kehidupan. Namun kini keadaannya justru sebaliknya, banyak orang menolaknya, banyak orang mengabaikannya bahkan mengolok-ngoloknya.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya):
“Dan apa yang diperintahkan Rasul kepada kalian maka lakukanlah sedang apa yang beliau larang darinya maka berhentilah.” (Al Hasyr: 7)

“Barangsiapa yang menaati Rasul berarti ia telah menaati Allah.” (An Nisa’: 80)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al Ahzab: 36)

Ketiga ayat ini menunjukkan secara tegas bagaimana semestinya kita menempatkan Sunnah Nabi, yakni wajib mengambilnya dan merupakan keharusan yang tidak ada tawar-menawar lagi. Kemudian menjadikan Sunnah tersebut sebagai pedoman dalam melangkah dan melakukan ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu Allah jadikan Nabi-Nya sebagai penjelas dan penjabar Al Qur’an bukan sekedar menyampaikan atau membacakannya secara lafadz saja, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” (An-Nahl: 44)

Demikian pula Rasulullah shalallahu alaihi wassallam bersabda:
‘Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pimpinan, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia akan melihat perbedaan yang banyak, maka disaat seperti itu wajib atas kalian bepegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah para Al Khulafa’ Ar Rasyidin, gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian dan jauhilah perkara-perkara yang baru (bid’ah) karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” (Shahih, HR Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi dari hadits Al Irbadh bin Sariyah, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’, no: 2549)

LARANGAN MENINGGALKAN SUNNAH NABI
Abu Bakar Ash Shiddiq Rodhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Tidaklah suatu amalan pun yang dilakukan oleh Rasulullah kecuali pasti saya juga melakukannya dan saya takut jika saya tinggalkan sesuatu darinya lalu saya sesat.”

Wahai saudaraku… Orang yang paling jujur (Abu Bakar) khawatir terhadap dirinya untuk tersesat jika menyelisihi sesuatu dari jalan Nabi. Maka bagaimana jadinya dengan sebuah jaman yang penduduknya mengolok-olok Nabi mereka dan perintah-perintahnya bahkan berbangga dengan menyelisihi dan mengolok-oloknya.

Maka sangat mengherankan kalau seseorang tahu Sunnah lalu meninggalkannya dan mengambil pendapat yang lain sebagaimana dialami oleh Al Imam Ahmad: “Saya merasa heran terhadap sebuah kaum yang tahu sanad hadits dan keshahihannya kemudian memilih pendapat Sufyan (maksudnya Sufyan Ats Tsauri-red) padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Maka hendaklah berhati-hati orang yang menyelisihi perintah Rasul-Nya untuk tertimpa fitnah atau tertimpa adzab yang pedih (An-Nur: 63). Tahukah kalian apa arti fitnah? Fitnah adalah syirik.” (Fathul Majid, 466).

Demikian pula suatu saat Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah ditanya tentang sebuah masalah maka beliau mengatakan bahwa dalam masalah ini diriwayatkan demikian dan demikian dari Nabi. Maka si penanya mengatakan: “Wahai Al Imam Asy Syafi’i, apakah engkau berpendapat sesuai dengan hadits itu?” Maka beliau langsung gemetar lalu mengatakan: “Wahai, bumi mana yang akan membawaku dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku riwayatkan hadits dari Nabi kemudian aku tidak memakainya?! Tentu, hadits itu di atas pendengaran dan penglihatanku (yang aku junjung tinggi).” (Shifatus Shafwah, 2/256, Ta’dhimus Sunnah, 28).

Dalam kesempatan lain beliau ditanya dengan pertanyaan yang mirip lalu beliau gemetar dan menjawab: “Apakah engkau melihat aku seorang Nasrani? Apakah kau melihat aku keluar dari gereja? Ataukah engkau melihat aku memakai ikat di tengah badanku (yang biasa orang Nasrani memakainya-red)? Saya meriwayatkan hadits dari Nabi lalu saya tidak mengambilnya sebagai pendapat saya?!” (Miftahul Jannah, 6)

PAHALA BAGI ORANG YANG BERPEGANG DENGAN SUNNAH NABI
Rasulullah shalallahu alaihi wassallam bersabda:
“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran, kesabaran di hari itu seperti menggenggam bara api, bagi yang beramal (dengan Sunnah Nabi) pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh.” Seseorang bertanya: “Limapuluh dari mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Pahala limapuluh dari kalian.” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi lihat Silsilah Ash Shahihah no. 494)

JAMINAN BAGI ORANG YANG BERPEGANG TEGUH DENGAN SUNNAH NABI
Selama seseorang berada di atas Sunnah Nabi maka dia tetap berada di atas istiqamah. Sebaliknya, jika tidak demikian berarti ia telah melenceng dari jalan yang lurus sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Umar: “Manusia tetap berada di atas jalan yang lurus selama mereka mengikuti jejak Nabi.” ( Riwayat Al Baihaqi, lihat Miftahul Jannah no.197). ‘Urwah mengatakan: “Mengikuti Sunnah-Sunnah Nabi adalah tonggak penegak agama.” (Riwayat Al Baihaqi, Miftahul Jannah no: 198)

Seorang tabi’in bernama Ibnu Sirin mengatakan: “Dahulu mereka mengatakan: selama seseorang berada di atas jejak Nabi maka dia berada di atas jalan yang lurus.” (Riwayat Al Baihaqi, Miftahul Jannah no. 200)

Oleh karena itu, Allah berfirman:

وَإِنْ تُطِيْعُوهُ تَهْتَدُوا

“Dan jika kalian menaatinya niscaya kalian akan mendapatkan hidayah.” (An-Nur: 54)

Wallahu ‘A’lam bish Showab

Ditulis oleh:
al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc
source : klik disini ya :)

5 thoughts on “Makna Sunnah Nabi

  1. terima kasih atas penjelasanya, smoga kita selalu menjadi orng yg berpegang teguh terhadap sunnah nabi dan selalu menjalankan perintahnya dan dijahukan dari perkara perkara yg dapat merusak keimanan kita….amien

  2. Assalamualaikum,bagaimana ada pendapat yg membahagikan sunnah kpd:
    a) yg perlu diikuti
    b) Dan tidak perlu diikuti( cth jubah,purdah,kayu sugi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s