Sebuah Mimpi Seorang Pemimpin


“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).” (QS. Al Lail 1)

Senja itu datang begitu saja, sesaat setelah mentari tertutup banyangan dari sang bulan, orang bilang itu gerhana. Indahnya pergantian malam itu begitu memesona, cahayanya, sinarnya, sang surya, dan awan yang menutupinya membuat lengkap semuanya, yah itulah yang disebut SENJA.

“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Luqman 29)

“Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Al Hadid 6)

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Az Zumar 5)

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman 13)

Subhanallah… Maha Suci Allah ‘Azza wa Jalla dengan segala penciptaan Nya.

bismillah, sebuah mimpi seorang pemimpin. Mimpi-mimpi yang terkadang ayal tuk direalisasikan, hanya akan menjadi dekapan dan angan saja, ah tidak! Ini akan menjadi kenyataan, dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla. Aku teringat sebuah pidato seorang Abu Bakr Ash Shiddiq Setelah beliau dipercaya menjadi khalifah, beliau berdiri dan menyampaikan pidato pertamanya :

“Wahai sekalian manusia, sungguh aku telah diberikan amanah memimpin kalian semua dan aku bukanlah orang yang terbaik diantara kalian, jika aku melakukan kebaikan maka tolonglah aku, namun jika melakukan kesalahan maka luruskanlah, kejujuran merupakan amanah, sedang dusta adalah khianat, orang yang lemah diantara kalian akan kuat disisiku hingga aku dapat menghilangkan bebannya insya Allah, sedangkan orang yang kuat diantara kalian lemah disisiku sampai aku dapat mengambil hak darinya insya Allah, tidaklah suatu kaum meninggalkan kewajiban jihad kecuali Allah akan hinakan mereka, dan tidaklah tersebar kemaksiatan dalam suatu kaum kecuali Allah akan menimpakan mereka bencana, taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, namun jika saya menyimpang kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada taat kepadaku atas kalian”.

Mimpiku hanyalah ingin menjadi seperti mereka, generasi terdahulu, generasi pilihan.

“Jika engkau bisa, jadilah seorang ‘ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka.” (‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz)

Benar, tugasku sekarang ialah belajar dan menuntut ilmu, menimba ilmu dari orang-orang yang faqih, dan bersabar atas godaan godaan orang-orang disekitarku. Teringat sebuah nasehat dari seorang ustadz, aku diwasiatkan agar jangan pernah menyia-nyiakan hidayah yang Allah berikan kepadaku, istiqomahlah di jalan Al Haq.

Pelajarilah Ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah khasyah, Menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah Tasbih, mencarinya adalah Jihad, Mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahui adalah Shadaqah, menyerahkan kepada ahlinya adalah Taqarrub. Ilmu adalah teman dekat dalam kesendirian dan sahabat dalam kesunyian. (Muadz bin Jabal radhiyallahu’anhu)

Abu Amr al-Auza’i: “Sabarlah dirimu di atas jalan sunnah. Berhentilah kamu di mana kaum itu berhenti. Ucapkan apa yang mereka ucapkan. Tinggalkan apa yang telah mereka tinggalkan dan jalanilah jalan salafmu yang shalih.” Juga: “Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan jejak2 salaf walaupun manusia menolakmu. Dan hati2lah kalian dari pendapat2 manusia walaupun mereka mengindahkan ucapannya untukmu.”

Allahul Musta’an, Allahumma kama khasanta khalqi fa khassin khuluqi…

Satu bait terakhir…

Kau tidak perlu memiliki wajah secantik ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dan juga harta seluas perbendaharaan Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, atopun kekuasaan seluas kerajaan Ratu Balqis yg mampu mendebarkan hati jutaan pria untuk membuatku terpikat. Namun, cukuplah kefahamanmu akan agama ini serta kebaikan akhlaqmu yg akan membuatku tidak dapat berpaling pada hati yg lain. Ya Rabb….

Alhamdulillah selesai, disudut kamar yang sunyi, Yogyakarta 19 Januari 2010, dikala dhuha menyapa.🙂

5 thoughts on “Sebuah Mimpi Seorang Pemimpin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s