Motivasi untuk sabar (bagian 2)


Yang penting bahwasanya macam-macam ujian itu sangat banyak yang butuh akan adanya kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, maka seseorang harus menahan jiwanya dari apa-apa yang diharamkan kepadanya dari menampakkan keluh kesah dengan lisan atau dengan hati atau dengan anggota badan.

Allah berfirman:

“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.” (QS.Al-Insan: 24)

Maka masuk dalam ayat ini yaitu hukum Allah yang bersifat taqdir. Dan diantara ayat yang menjelaskan jenis sabar ini adalah firman Allah:

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (QS.Al-Ahqaf: 35)

Ayat ini menerangkan tentang kesabaran para rasul dalam menyampaikan risalah dan dalam menghadapi gangguan kaumnya.

Dan juga diantara jenis sabar ini adalah ucapan Rasulullah kepada utusan salah seorang putri beliau:

“Perintahkanlah kepadanya, hendaklah bersabar dan mengharap pahala kepada Allah (dalam menghadapi musibah tersebut).” (HR.Bukhariy dan Muslim)

Keadaan Manusia Ketika Menghadapi Musibah

Sesungguhnya manusia di dalam menghadapi dan menyelesaikan musibah ada empat keadaan:

Keadaan pertama: marah

Keadaan kedua: bersabar

Keadaan ketiga: ridha

Keadaan keempat: bersyukur.

Inilah empat keadaan manusia ketika ditimpa suatu musibah.

Adapun keadaan pertama: yaitu marah baik dengan hatinya, lisannya ataupun anggota badannya.

Adapun marah dengan hatinya yaitu dalam hatinya ada sesuatu terhadap Rabbnya dari kemarahan, perasaan jelek atau buruk sangka kepada Allah – dan kita berlindung kepada Allah dari hal ini- dan yang sejenisnya bahkan dia merasakan bahwa seakan-akan Allah telah menzhaliminya dengan musibah ini.

Adapun dengan lisan, seperti menyeru dengan kecelakaan dan kebinasaan, seperti mengatakan: “Duhai celaka, duhai binasa!”, atau dengan mencela masa (waktu), yang berarti dia menyakiti Allah ‘Azza wa Jalla dan yang sejenisnya.

Adapun marah dengan anggota badan seperti menampar pipinya, memukul kepalanya, menjambak rambutnya atau merobek bajunya dan yang sejenis dengan ini.

Inilah keadaan orang yang marah yang merupakan keadaannya orang-orang yang berkeluh kesah yang mereka ini diharamkan dari pahala dan tidak akan selamat (terbebas) dari musibah bahkan mereka ini mendapat dosa, maka jadilah mereka orang-orang yang mendapatkan dua musibah: musibah dalam agama dengan marah dan musibah dalam masalah dunia dengan mendapatkan apa-apa yang tidak menyenangkan.

Adapun keadaan kedua: yaitu bersabar terhadap musibah dengan menahan dirinya (dari hal-hal yang diharamkan), dalam keadaan dia membenci musibah dan tidak menyukainya dan tidak menyukai musibah itu terjadi akan tetapi dia bersabar (menahan) dirinya sehingga tidak keluar dari lisannya sesuatu yang dibenci Allah dan tidak melakukan dengan anggota badannya sesuatu yang dimurkai Allah serta tidak ada dalam hatinya sesuatu (berprasangka buruk) kepada Allah selama-lamanya, dia tetap bersabar walaupun tidak menyukai musibah tersebut.

Adapun keadaan ketiga: yaitu ridha, di mana keadaan seseorang yang ridha itu adalah dadanya lapang dengan musibah ini dan ridha dengannya dengan ridha yang sempurna dan seakan-akan dia tidak terkena musibah tersebut.

Adapun keadaan keempat: bersyukur, yaitu dia bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut, dan adalah keadaannya Rasulullah apabila melihat sesuatu yang tidak disukainya, beliau mengatakan:

“Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.”

Maka dia bersyukur kepada Allah dari sisi bahwasanya Allah akan memberikan kepadanya pahala terhadap musibah ini lebih banyak dari apa-apa yang menimpanya.

Dan karena inilah disebutkan dari sebagian ahli ibadah bahwasanya jarinya terluka lalu dia memuji Allah terhadap musibah tersebut, maka orang-orang berkata: “Bagaimana engkau memuji Allah dalam keadaan tanganmu terluka?” Maka dia menjawab: “Sesungguhnya manisnya pahala dari musibah ini telah menjadikanku lupa terhadap pahitnya rasa sakitnya.”

Tingkatan Sabar

Sabar itu ada tiga macam, yang paling tingginya adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, kemudian sabar dalam meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, kemudian sabar terhadap taqdir Allah. Dan susunan ini ditinjau dari sisi sabar itu sendiri bukan dari sisi orang yang melaksanakan kesabaran, karena kadang-kadang sabar terhadap maksiat lebih berat bagi seseorang daripada sabar terhadap ketaatan, apabila seseorang diuji contohnya dengan seorang wanita yang cantik yang mengajaknya berbuat zina di tempat yang sunyi yang tidak ada yang melihatnya kecuali Allah, dalam keadan dia adalah seorang pemuda yang mempunyai syahwat (yang tinggi), maka sabar dari maksiat seperti ini lebih berat bagi jiwa. Bahkan kadang-kadang seseorang melakukan shalat seratus raka’at itu lebih ringan daripada menghindari maksiat seperti ini.

Dan terkadang seseorang ditimpa suatu musibah, yang kesabarannya dalam menghadapi musibah ini lebih berat daripada melaksanakan suatu ketaatan, seperti seseorang kehilangan kerabatnya atau temannya ataupun istrinya. Maka engkau akan dapati orang ini berusaha untuk sabar terhadap musibah ini sebagai suatu kesulitan yang besar.

Akan tetapi ditinjau dari kesabaran itu sendiri maka tingkatan sabar yang tertinggi adalah sabar dalam ketaatan, karena mengandung ilzaaman (keharusan) dan fi’lan (perbuatan). Maka shalat itu mengharuskan dirimu lalu kamu shalat, demikian pula shaum dan haji… Maka padanya ada keharusan, perbuatan dan gerakan yang padanya terdapat satu macam dari kepayahan dan keletihan.

Kemudian tingkatan kedua adalah sabar dari kemaksiatan karena padanya hanya ada penahanan diri yakni keharusan bagi jiwa untuk meninggalkannya.

Adapun tingkatan ketiga, sabar terhadap taqdir, maka sebabnya bukanlah dari usaha seorang hamba, maka hal ini bukanlah melakukan sesuatu ataupun meninggalkan sesuatu, akan tetapi semata-mata dari taqdir Allah. Allahlah yang memberi taufiq.

(Diringkas dari Al-Qaulul Mufiid dan Syarh Riyaadhush Shaalihiin)

(Sumber: Bulletin Al Wala’ wa Bara’, Edisi ke-5 Tahun ke-3/24 Desember 2004 M/12 Dzul Qo’dah 1425 H. Judul asli Sabar, Suatu Kemestian. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung)

link : Ahlussunnah Jakarta

10 thoughts on “Motivasi untuk sabar (bagian 2)

  1. Terima kasih telah berbagi, semoga kita termasuk ke dalam golongan hamba-hambaNya yang berusaha untuk bersabar dalam ketaatan kepadaNya, aamiin ya Rabb…🙂

  2. Assalaamu’alaikum..

    Apa khabar Mas Wahyu? Maaf kerana lama sudah tidak bersilaturahmi. Mudahan dikurniakan kedamaian dan kebahagiaan dari Allah swt.

    Membaca kongsian hikmah di atas, cukup memberi kesan yang mendalam untuk selalu bersabar ketikam berdepan dengan musibah yang menjadi landasan kasih sayang Allah untuk hambaNya bertaubat dan meningkatkan takwa.

    Keempat-empat aspek yang selalu menguji manusia iaitu marah, sabar, redha dan syukur sepatutnya akan lebih menjadikan manusia sedar akan kelemahan diri yang memerlukan tempat bergantung supaya sifat keakuan dapat ditundukkan sehingga kita merasai sifat hamba kepada pencipta yang berhak diminta segala permohonan.

    Salam hormat dari Sarikei, Sarawak, MALAYSIA.

  3. Mantap gan… Hidup memang harus sabar…

    Semakin tinggi tingkatan seorang hamba dihadapan Tuhannya maka akan semakin tinggi cobaan dan ujian yang muncul. Hanya orang-orang yang sabarlah yang mampu lulus dalam setiap ujian yang muncul.

    “Jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu”

    Best Regards,

    -hadi-

    http://onlyhadi.wordpress.com/

  4. mengingatkanku pada suatu ketika ketika aku berkata “sabar ada batasnya”

    ternyata tidak ya…? sabar itu tidak berbatas, manusia saja yang sering lelah untuk bersabar.

    eh, itu foto mesjid kita kah? kok buagus ya, asli?

    master
    (ada yg ngira aku ikhwan karna pake nama ini🙂 )

  5. Kuatkanlah ikatannya
    kekalkanlah cintanya
    tunjukilah jalan-jalannya
    terangilah dengan cahayamu
    yang tiada pernah padam
    Ya Rabbi bimbinglah kami

    Lapangkanlah dada kami
    dengan karunia iman
    dan indahnya tawakal padaMu
    hidupkan dengan ma’rifatMu
    matikan dalam syahid di jalan Mu
    Engkaulah pelindung dan pembela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s